Drs. KH. Kaseri : Al Qur’an Sebagai Pedoman dan Tuntunan Hidup Manusia

2
[caption id="attachment_596" align="alignleft" width="300" caption="Drs. KH. Kaseri , Ketua Umum MUI Magetan"][/caption]

Al Quran adalah kalam, firman Alloh SWT yang diwariskan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS sebagai pedoman hidup manusia di dunia dan berpahala bagi siapa saja yang mengaji, mengamalkan isi kandungan Al Quran. Pernyataan  tersebut diungkapkan  oleh Drs. KH. Kaseri selaku Ketua Umum MUI Kabupaten Magetan pada sambutannya dalam acara Pembukaan Pelatihan Mengajar Membaca Al Qur’an dengan Metode Tilawati beberapa waktu yang lalu di Ponpes Al Maghfiroh, Karas, Magetan.


Pelatihan ini sendiri dilaksanakan oleh DPD LDII Kabupaten Magetan melalui  Biro Pemuda dan Olah Raga (Tim PPG Magetan). dan direncanakan berlangsung mulai tanggal 20 sampai 22 Juni 2011. Beliau menambahkan lebih baik salah terlebih dahulu tetapi masih dalam proses belajar daripada tidak pernah belajar sama sekali dalam hal membaca Al Quran.


Kandungan yang tersirat dalam Al Quran, antara lain :




  1. Tuntunan dan keyakinan hidup manusia berdasarkan tatanan dalam Al Quran ( Al Quran sebagai tuntunan akidah Islam setiap manusia).

  2. Al Quran adalah berisi tutunan iman, tuntunan ibadah, dan pengabdian  / syariat (cara mengamalkan keyakinan)

  3. Al Quran berisi janji dan ancaman. Janji Alloh adalah adanya Surga dan Neraka. Ancaman adalah peringatan Alloh kepada Manusia untuk senantiasa bersyukur dan ingat kepada Alloh (bencana alam, tsunami, dll)

  4. Al Quran berisi cerita terhadap semua hal yang pernah terjadi maupun semua hal yang belum terjadi.


Al Qur’an yang diwariskan kepada Nabi Muhammad SAW itu dijabarkan pada semua manusia di dunia, maka pemahaman isinya harus sesuai dengan Nabi. Tidak semaunya sendiri berdasarkan akal masing – masing. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat kemudian Al Quran diteruskan kepada para ulama (Q.S Fathir).


Setelah Al Quran difahami dan dipelajari oleh manusia, kemudian ada tingkatan – tingkatan tersendiri bagi manusia dalam melakasanakan dan memahami isi kandungan Al Quran sebagai praktek beribadah kepada Alloh SWT. Tingkatan tersebut antara lain :




  1. Orang yang menganiaya diri sendiri. Manusia tahu hukum benar salah, halal haram tapi malah melanggarnya.

  2. Orang yang ikut – ikutan. Tidak melanggar tapi juga tidak bersungguh – sungguh.

  3. Orang yang bersungguh – sungguh dalam menjalankan perintah Alloh dan menjauhi semua larangnnya.


Di akhir sambutannya beliau mengharapkan agar kita senantiasa menjadi golongan yang ke 3, yaitu bersungguh – sungguh dalam beribadah kepada Alloh dan menjauhi larangan-Nya. (mad)




[caption id="" align="aligncenter" width="386" caption="Foto Bersama Ketua Umum MUI Kabupaten Magetan"][/caption]

Share :

Komentar Facebook:

2 Komentar Blog:

[...] Barokah yang dijadikan ruang utama kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya diadopsi sebagai nama Pondok Pesantren [...]

[...] Semula Pondok pesantren Baitul Ulum yang mulai beroperasi tahun 1977 bertujuan untuk mendidik generasi muda setempat yang jumlahnya terus meningkat. Namun saat ini lembagapendidikan yang diresmikan oleh ketua DPR Agung Laksono ini membina 70 orang santri putra dan putri berasal dari berbagai daerah. Setiap bulan pondok ini meluluskan tidak kurang dari 5 orang mubaligh dan mubalighot. Kualifikasi umum mubaligh dan mubalighot LDII adalah: lulus bacaan / tajwid Quran 30 jus, khatam makna dan keterangan / tafsir Quran 30 jus, khatam 15 hadist himpunan dan berakhlak baik. [...]